Aku Buktikan Janjiku untuk Menikahimu

Aku Buktikan Janjiku untuk Menikahimu

Andriberbudi.com - Banyak orang mengira menikah itu akhir cerita. Seolah-olah, begitu ijab kabul selesai, soundtrack kehidupan berhenti, lalu layar ditutup. Padahal menikah itu bukan ending, tapi season baru. Kalau pacaran kamu bisa ngambek terus tidur, kalau menikah kamu ngambek tetap harus makan bareng. Jadi, nggak bisa kabur ke kosan masing-masing lagi.

Perjalanan ini panjang. Dari perkenalan, pacaran, sampai akhirnya menikah. Proses yang ditunggu-tunggu hampir setiap pasangan, termasuk aku. Walaupun, jujur saja, nggak semua pasangan punya tujuan menikah. Ada yang pacaran cuma biar nggak dicap jomblo. Ada yang sekadar pelampiasan nafsu. Ada juga yang masih nggak jelas masa depannya (nah, yang terakhir ini, aku banget dulu).

Mungkin kalian mikir, “Lho, kok bisa nggak punya tujuan tapi ujung-ujungnya menikah?” Tenang, mari kujelaskan.

Dulu waktu pertama kali pacaran, Rahma masih kelas 3 SMK, aku masih kuliah. Ya mana mungkin lah mikirin nikah jauh-jauh. Kami masih hidup dari kiriman orang tua. Jadi, ngomongin masa depan waktu itu rasanya kayak main catur tapi bidaknya belum lengkap.

Tapi Rahma pernah bilang kalimat sederhana, “Kalau memang kita jodoh, pasti akan menikah. Yang penting kita jaga hubungan ini.”

Kalimat itu sederhana, tapi menenangkan. Seperti kopi sachet yang murah, tapi tetap bikin hangat di malam dingin.

Hubungan kami pun berjalan. Ada konflik, tentu saja. Namanya juga dua kepala. Cara menyelesaikannya? Nggak pakai teori ribet. Ngaku salah, minta maaf, berubah. Kedengarannya gampang, praktiknya ribet. Kayak bikin nasi padang sendiri di rumah—kelihatan simpel, tapi hasilnya sering bikin menyesal.

Saat Mulai Serius

Kami baru benar-benar mikirin masa depan setelah Rahma kerja dan aku punya penghasilan. Walaupun, gaji itu sering ludes buat bayar kos, makan, dan kebutuhan sehari-hari. Teman kosku pernah bilang: “Bud, semakin banyak penghasilan, semakin banyak pula pengeluaran.”

Dan aku harus akui, itu ada benarnya.

Sampai akhirnya Rahma bilang, “Mas, nek kamu meh nikahi aku, mbok cari kerja to, biar orang tuaku setuju.”

Kalimat itu rasanya kayak dilempar granat, tapi isinya semangat, bukan mesiu. Aku langsung tergerak buat cari kerja lebih serius.

Aku Buktikan Janjiku untuk Menikahimu

Pelajaran dari Pacaran

Mungkin kalian bosan dengan ceritaku yang ngalor-ngidul ini. Jadi biar nggak sia-sia, aku mau kasih beberapa tips membangun masa depan bareng pasangan, khususnya buat kalian yang masih di fase “pacaran ala survivor.”

Kurangi pertikaian.

Pacaran itu gampang ribut. Biasanya karena salah satu dominan dan nggak mau ngalah. Kalau mau langgeng, jangan gengsi minta maaf. Ingat, gengsi itu nggak bisa bayar biaya nikah.

Berceritalah.

Kalau ketemu, ngobrol. Tentang apa aja. Jangan sampai HP lebih penting dari pasanganmu. Aku sama Rahma sering taruh HP di meja biar nggak sibuk sendiri.

Berbeda itu penting.

Sesekali kasih perhatian atau kejutan. Nggak perlu mahal, yang penting tulus. Dulu aku sering kasih hal-hal receh tapi unik. Alasannya simpel: ya karena nggak punya duit. Kalau punya, mungkin aku kasih dia pesawat plus pilotnya.

Tunjukkan keseriusan.

Sesekali obrolan dibawa serius. Tanya dulu, “Kamu beneran sayang aku?” Kalau jawabannya “nggak”, ya sudah—tinggalkan. Kalau “iya”, baru bahas masa depan.

Tentukan waktu menikah.

Kalau sudah serius, jangan takut pasang target. Biar ada pegangan. Target itu bikin kita mikir, “Oke, harus nabung, harus kerja lebih giat, harus berdoa lebih rajin.”

Menuju Pernikahan

Akhirnya, setelah kerja beberapa bulan, gajiku masih saja bablas. Rahma nyaranin aku bikin rekening baru tanpa ATM, biar nggak gampang diambil. Strategi ini lumayan berhasil, meski aku harus rela nggak sering nongkrong.

Dan akhirnya, kami sepakat menikah. Tanggal 24 Juni 2018, pernikahan kami resmi disahkan negara. Alhamdulillah, urusan surat dari desa sampai KUA pun lancar, meski kami beda provinsi.

Terakhir

Menikah itu bukan soal pesta mewah, undangan elegan, atau status baru di media sosial. Menikah itu soal dua orang yang rela menanggung rewel satu sama lain—tanpa paksaan, dengan kesadaran penuh, dan (semoga) dengan kebahagiaan yang tumbuh dari hari ke hari.

Buat yang sudah punya pasangan, semoga segera dilancarkan sampai pelaminan. Buat yang jomblo, semoga segera bertemu dengan orang yang tepat. Ingat, carilah pasangan yang nyaman. Cantik atau ganteng bisa memudar, kaya bisa habis, tapi kenyamanan itu yang bikin hidup terasa rumah.

Dan buat yang masih berharap pada si dia yang nggak peka—sudahlah. Berharaplah pada Tuhan. Karena Dia yang paling tahu siapa yang bisa menerima dan menemanimu.