Cerita Sepanjang Jalan Pacaran

Cerita Sepanjang Jalan Pacaran


Katanya cowok dan cewek bisa sahabatan. Menurutku? Ya… bohong. Minimal di kasusku, teori itu ambyar.

Aku sahabatan sama dia selama tiga tahun. Panggilannya pun unik: aku manggil dia “Dinda”, dia manggil aku “Kanda”. Kalau dipikir sekarang, itu cringe banget. Tapi ya gitu, lama-lama kenyamanan berubah jadi kekosongan yang pingin diisi. Sampai akhirnya, aku nembak dia.

12 Maret 2011, kami resmi pacaran. Sejak itu “Dinda-Kanda” pensiun, diganti dengan “Sayang”. Tapi aku lebih suka manggil dia “Nduk”. Lebih sederhana, lebih ngangenin.

Pertama Kali Main ke Rumahnya: Ketemu Keluarga Naruto

Aku pernah tanya, “Nduk, aku boleh main ke rumahmu?”
Dia jawab polos, “Jangan sekarang, aku masih SMK.”
Aku cuma ketawa, “Lha, emang aku mau ngapain? Cuma mau kenalan sama orang tuamu.”

Beberapa bulan kemudian, aku akhirnya main ke rumahnya. Yang bikin kaget, keluarganya kayak keluarga Naruto. Adiknya yang masih SD hafal semua nama ninja Konoha, bahkan ibunya pun ikut nimbrung. Aku? Cuma bisa senyum-senyum sambil mikir, “Kenapa aku masuk ke keluarga shinobi tanpa ijazah Chuunin Exam?”

Rekor Pacaran: Lebih Dari Setahun

Hari-hari berjalan normal: SMS-an, telpon, tuker kabar, ketemuan. Sampai akhirnya kami ngelewatin satu tahun pacaran. Buatku itu rekor baru, karena pacaran sebelumnya paling lama cuma setahun, bahkan ada yang dua bulan udah kandas.

Dengan dia, aku sempet mikir, “Apa dia jodohku?” Tapi langsung kuhempas. Masih terlalu dini. Ngomongin jodoh waktu masih kuliah tuh rasanya kayak ngomongin cicilan rumah padahal tabungan masih 50 ribu.

Masalah Cemburu yang Klasik

Pacaran tanpa cemburu itu kayak makan bakso tanpa sambal: hambar.
Dia punya banyak teman cowok, aku punya banyak teman cewek. Jadi ya, sering ada gesekan. Tapi masalah selalu kelar. Caranya? Dengan metode klasik: yakinkan pasangan berkali-kali bahwa “aku udah berubah kok.”

Rahasia pacaran awet? Sebenarnya nggak ada. Kami cuma saling terbuka, saling menerima. Dia suka anime, aku benci anime. Kalau dia lagi nonton anime, aku tinggal tidur.

Titik Terendah dan Keteguhan

Setelah kuliah, aku kerja. Dia sibuk dengan kuliahnya. Semua berjalan baik, sampai aku resign dan memutuskan jadi blogger. Saat itu aku merasa jatuh banget.

Aku bilang ke dia, “Nduk, aku nggak layak buatmu. Kalau kamu mau cari yang lain, monggo.”
Dia jawab, “Aku udah nyaman sama kamu. Aku masih mau semangatin kamu.”

Itu kalimat sederhana, tapi jauh lebih romantis dari ucapan “I love you” ala film Hollywood.

Episode Lamaran: Restu Orang Tua

Dengan segala perjuangan, aku akhirnya balik cari kerja lagi. Lowongan? Dia yang kasih. Nganterin lamaran? Dia juga. Aku diterima kerja, alhamdulillah.

Sampai suatu pagi, ibuku nelpon:
“Ndri, kamu serius sama Rahma?”
Aku jawab singkat, “Iya, Buk.”
“Ya udah, minggu depan ibu sama bapakmu pulang ke Jawa, sekalian ketemu orang tuanya Rahma.”

Dalam hati aku senyum, “Dari Dinda-Kanda, jadi Nduk-Sayang, sekarang siap-siap jadi istri.”

Penutup: Pacaran Itu Soal Bertahan

Kalau ada yang nanya rahasia pacaran lama, jawabannya simpel: bukan cari yang sempurna, tapi cari yang masih mau nemenin kamu bahkan ketika kamu nggak sempurna.