Selamat Ulang Tahun, Peri Kecilku Catatan seorang bapak untuk Sabriya Andara di usia 5 tahun

Selamat Ulang Tahun, Peri Kecilku Catatan seorang bapak untuk Sabriya Andara di usia 5 tahun

Catatan seorang bapak untuk Sabriya Andara di usia 5 tahun

Usianya baru lima tahun, tetapi pagi itu saya merasa waktu berjalan terlalu cepat. Rasanya baru kemarin saya menggendong tubuh kecilnya yang hangat, sekarang ia sudah pandai meniup lilin sendiri.

Ia menatap saya sambil memeluk boneka beruang kesayangannya—yang ia beri nama Coko. Dengan suara polos, ia bertanya,
“Pak, kalau aku sudah lima tahun, aku sudah besar belum?”

Saya tersenyum dan mengangguk pelan.
“Iya,” jawab saya, sambil menyelipkan sedikit nasihat tentang belajar mandiri— nasihat yang mungkin belum sepenuhnya ia pahami, tapi saya harap suatu hari nanti akan ia ingat.

Ulang Tahun Kelima dan Dunia Anak-anak

Tahun ini Sabriya memilih tema Unicorn. Saya tidak tahu dari mana ide itu datang. Yang jelas, semuanya serba unicorn— dari kue ulang tahun sampai goody bag untuk teman-temannya.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, ia merayakan ulang tahunnya di sekolah, bersama teman-teman kecilnya dan ibu guru yang sabar menemani.

Sejak sebulan lalu, rumah kami tak pernah benar-benar sunyi. Sabriya begitu antusias membicarakan konsep ulang tahunnya. Setiap hari selalu ada cerita baru, ada rencana kecil yang baginya terasa besar.

Dan bagi saya, itu wajar. Namanya juga anak-anak— hari ulang tahun adalah momen mereka merasa dunia sedikit lebih ramah.

Ia selalu menanti kado. Bukan soal apa isinya, melainkan rasa penasaran saat melihat sebuah bingkisan terbungkus kertas kado. Bagian favoritnya adalah saat membuka bungkusan itu dengan susah payah, seolah sedang membongkar harta karun kecil miliknya sendiri.

Malam yang Sunyi, Doa Seorang Bapak

Tepat pukul dua belas malam, peri kecilku resmi bertambah usia. Ia tidak menyadarinya karena sudah tertidur pulas.

Saya masuk ke kamarnya, menatap wajahnya yang tenang, lalu bergumam pelan,
“Cepat sekali… sudah lima tahun.”

Wajah itu masih sama. Cantik. Menggemaskan. Seperti bayi kecil yang dulu sering tertidur di dada saya.

Saya mencium pipinya perlahan, mengucapkan selamat ulang tahun, dan menyelipkan doa-doa terbaik yang hanya seorang bapak bisa ucapkan dalam diam.

Hadiah Sederhana dan Makna Kehadiran

Pagi harinya, saat ia terbangun, kami kembali mengucapkan selamat ulang tahun sambil memeluknya.

“Sekarang aku sudah lima tahun?” tanyanya, dengan wajah yang tak percaya.

Ia berangkat ke sekolah ditemani ibu dan neneknya untuk merayakan ulang tahun bersama teman-temannya. Sementara itu, saya kembali menjalani aktivitas bapak-bapak pada umumnya—kerja. Ya, kerja. Hahaha.

Namun sepanjang hari itu, hati saya gelisah. Saya tahu, tanpa sebuah kado yang terbungkus rapi, ia mungkin akan kecewa. Bukan karena mahalnya, tapi karena maknanya.

Saya ingin membuatnya bahagia di hari spesialnya.

Sepulang kerja, saya berhenti di PASTY—Pasar Satwa dan Tanaman Hias Yogyakarta. Saya mengisap vape sambil berpikir, hadiah apa yang bisa saya beli, dan di mana.

Saya membuka Google Maps, mengetik kata “kado”, lalu membaca satu per satu rekomendasi. Hingga akhirnya saya memilih sebuah toko yang ternyata jaraknya hanya sekitar dua ratus meter dari tempat saya berhenti.

Di dalam toko, saya masih kebingungan. Mengambil satu mainan, lalu meletakkannya kembali. Rasanya kurang tepat.

Sampai akhirnya saya teringat ulang tahun keponakan saya dulu. Saya pernah membelikannya berbagai aksesori dan kebutuhan harian, dan ia sangat menyukainya.

Akhirnya saya memilih itu. Sederhana. Lalu saya minta sekalian dibungkus.

Melihat proses membungkus kado saja sudah membuat saya senang. Bungkusannya mungkin biasa bagi orang lain, tapi bagi saya, itu sudah terlihat istimewa.

Selamat Ulang Tahun, Peri Kecilku Catatan seorang bapak untuk Sabriya Andara di usia 5 tahun

Saat Sabriya menerima kado itu, ekspresinya membuat saya terdiam. Ada rasa malu, haru, dan lucu yang bercampur jadi satu. Sangat menggemaskan.

Saat dibuka, ia bertanya pelan,
“Kenapa bapak belikan ini?”

Saya jelaskan alasannya. Ia mengangguk, lalu memeluk saya.

Berkali-kali ia mengucapkan terima kasih— bahkan sampai menjelang tidurnya.

Menghargai bukan soal nominal, melainkan tentang waktu, ketulusan, dan tentang kita yang benar-benar ada di dekat mereka.

Selamat ulang tahun, peri kecilku.
Semoga langkahmu selalu ringan, dan dunia memperlakukanmu dengan lembut.