Liburan Singkat ke Solo Naik Kereta: Cerita Sederhana yang Berkesan Bersama Keluarga
Cerita liburan 1 hari 1 malam ke Solo naik kereta dari Jogja, lengkap dengan pengalaman sewa motor, kuliner, dan wisata keluarga yang sederhana tapi berkesan.
Hari ini (24/04/26), kami menikmati akhir pekan sederhana di Solo. Sebuah perjalanan kecil untuk menepati janji pada anak perempuan kami—naik kereta api dan menginap di luar kota.
Solo memang selalu jadi pilihan favorit kalau ingin liburan singkat dari Yogyakarta. Jaraknya hanya sekitar satu jam perjalanan, cukup dekat untuk menghindari lelah di jalan, tapi tetap memberi suasana yang berbeda. Aksesnya pun mudah, terutama dengan kereta lokal seperti commuter line atau Prameks yang berangkat dari Stasiun Tugu.
Alasan kami memilih Solo sebenarnya sederhana: dekat, murah, dan praktis. Tiket kereta hanya Rp8.000 per orang. Meski harus siap dengan kondisi berdesakan dan bahkan berdiri sepanjang perjalanan.
Dan benar saja, kami tidak kebagian tempat duduk.
Wajah Sabriya langsung berubah—bete.
Akhirnya, aku turunkan tas gendong dan bilang, “Briya, duduk sini saja.” Kami berdiri di dekat seorang pemuda yang tampak acuh, mungkin tidak sadar tentang penumpang prioritas. Sampai akhirnya seorang petugas datang dan bertanya, “Turun mana?”
“Solo Balapan,” jawab istriku.
Petugas itu kemudian menepuk pemuda tersebut dan bertanya, “Kamu tahu penumpang prioritas?” sambil menunjuk ke tanda di dinding kereta. Barulah dia berdiri, dan Sabriya bisa duduk bergantian.
Kenapa aku tidak menegur dari awal?
Entahlah. Mungkin aku masih berharap ada kesadaran dan empati tanpa harus diingatkan. Tapi ternyata… nol.
Menginap di Loji Hotel Solo
Kami memilih menginap di Loji Hotel Solo, lokasinya strategis dan dekat dengan Stasiun Solo Balapan. Ini sangat membantu mobilitas kami selama di sana—mau ke mana-mana jadi lebih mudah.
Sewa Motor di Solo
Setibanya di Solo, kami langsung menyewa motor dari brotherstrans.id. Booking dilakukan saat masih menunggu kereta di Jogja, dan hanya butuh sekitar 10 menit motor sudah diantar ke stasiun sesuai permintaan.
Biayanya Rp85.000—terbilang murah untuk unit Vario 110 dengan kondisi mesin yang masih prima.
Proses sewanya juga cukup simpel. Saat booking hanya perlu isi data seperti KTP, SIM, dan media sosial. Saat serah terima, cukup meninggalkan dua kartu identitas.
Setelah itu? Isi bensin Rp20.000, dan langsung jalan… setidaknya itu rencananya.
Pasar Gede & Mie Gajah Mas
Rencana muter-muter pertama sempat berubah. Istri mengajak ke Pasar Gede Hardjonagoro, tapi lagi-lagi Sabriya mulai rewel dan minta digendong. Akhirnya kami tidak lama di sana, hanya sempat membeli es dawet telasih dan es dawet durian untuk menyegarkan badan di tengah panasnya Solo.
Tak lama, alarm lapar berbunyi.
Kami pun menyeberang ke Mie Gajah Mas. Seporsinya terlihat biasa saja, tapi ternyata cukup mengenyangkan.
Check-in & Istirahat
Karena cuaca panas dan badan sudah lengket, ditambah waktu tidur siang Sabriya, kami memutuskan langsung check-in ke hotel.
Kita dapatnya kamar yang Superior Twin Room soalnya kamar yang kita mau ternyata smoking room, kasian Sabriya, ya apesnya saja kalau masih bau rokok tu kamar. Meskipun aku perokok tapi ya tetap menjaga anak.
Meski aku perokok, soal anak tetap jadi prioritas.
Sekarang Sabriya sudah mulai sensitif. Pernah suatu malam aku merokok di teras, dan asapnya masuk ke dalam rumah. Dia langsung teriak dari depan TV, “Pak! Bau rokoknya sampai sini!”
Ya sudah, aku yang mengalah.
Sore di Taman Sriwedari
Setelah Sabriya bangun tidur, kami mengajaknya keluar ke Taman Sriwedari. Awalnya dia ogah-ogahan, tapi setelah dibujuk akhirnya mau juga.
Di sana, kami melihat banyak rusa yang cukup aktif—terutama saat melihat makanan yang dibawa pengunjung. Kami sempat membeli pakan seharga Rp10.000.
Tapi plot twist-nya: Sabriya malah takut.
Gagal seru, tapi tetap lucu.
Karena hari mulai petang, kami tidak lama di sana. Lanjut berkeliling menikmati suasana jalanan Solo yang terasa lebih santai dibanding Jogja.
Perut kembali lapar, dan kami memutuskan makan malam di Waroeng SS daerah Purwosari.
Malam Hari
Sebelum kembali ke hotel, kami sempat mampir ke Indomaret untuk membeli susu dan sikat gigi Sabriya. Susu itu wajib. Tanpa itu, hampir pasti dia akan bangun tengah malam.
Hari Kedua di Solo
Sarapan yang Berubah Rencana
Awalnya ingin sarapan di luar, tapi Sabriya lagi-lagi memilih rebahan sambil nonton Nick Jr.
Akhirnya kami pesan GrabFood menggunakan voucher dari kantor. Pilihan jatuh ke nasi uduk, nasi kuning, dan lauk dari Warung Mbak Cemplok.
Rasanya? Enak dan cukup mengenyangkan untuk memulai hari.
Taman Balekambang
Karena masih ada waktu beberapa jam sebelum pulang, kami memutuskan ke Taman Balekambang yang jaraknya hanya sekitar 1,2 km dari hotel.
Tiket masuknya Rp5.000 per orang, dan sudah bisa bayar pakai QRIS. Area parkirnya luas, bersih, dan tertata rapi.
Di dalamnya, suasananya hijau dan tenang. Cocok untuk keluarga atau sekadar ingin santai di tengah kota.
Kami sempat berhenti di kolam ikan. Pakan ikan dijual Rp5.000 per plastik—sistemnya bayar sendiri ke kotak yang disediakan.
Jujur saja, sistem kepercayaan seperti ini justru jadi pengingat sederhana tentang kejujuran.
Tak terasa waktu sudah menjelang siang.
Kami pun kembali, dengan biaya parkir hanya Rp3.000.
Itulah cerita sederhana liburan kami bertiga ke Solo.
Tidak mewah, tidak terlalu banyak destinasi. Tapi cukup untuk menciptakan momen kecil yang mungkin akan selalu diingat.
Selanjutnya… kemana lagi ya?
