Cerita Cinta Kita Tahun 2000-an
Aku pertama kali kenal dia dari sebuah aplikasi yang—kalau sekarang aku ceritain ke anak-anak Gen Z—pasti mereka ngira aku bohong. Mig33. Yes, aplikasi chatting legendaris yang dulu rame banget dipakai anak-anak 2000-an.
Katanya sih menurut Wikipedia, mig33 ini komunitas telepon seluler terbesar di dunia. Buat aku, mig33 itu bukan sekadar aplikasi. Itu tempat di mana aku ketemu banyak orang baru, salah satunya… dia.
Di komunitas Jogja, ada satu nickname yang bikin aku penasaran. Orang ini lincah banget ngetik. Setiap obrolan grup, dia selalu nongol, entah ngebales dengan kalimat puitis atau bercanda receh. Dalam hati aku mikir, “Siapa sih ini? Kalau cewek, aku harus kenal.”
Akhirnya aku coba japri. Waktu itu istilahnya bukan DM, bukan PM, tapi mojok. Gaya banget kan? Dari situ kita ngobrol ngalor-ngidul. Mulai dari tukeran foto, cerita keseharian, sampai akhirnya aku minta nomor hape dia. Kaget juga pas langsung dikasih. Zaman itu, dikasih nomor hape sama aja kayak dikasih trust issue… eh, trust full maksudnya.
Besoknya langsung aku telepon. Dan ternyata suaranya enak banget diajak ngobrol. Jadilah rutinitas baru: aku nelpon dia, dia nerima, terus ngobrol sampai pulsa habis. Untung ada promo SMS—kirim lima kali bisa gratis berkali-kali. Anak 2000-an pasti paham nikmatnya.
Sampai suatu hari aku libur kuliah. Aku nekat ngajak dia kopdar. Deg-degan, bro. Takutnya foto yang dikirim beda sama realita. Tapi setelah deal tempat dan waktu, akhirnya aku ketemu dia.
Cewek tinggi, kulit sawo matang, agak kekar, tapi… cantik dengan caranya sendiri.
Kita makan bakso “Pak Agus”. Aku baru ngeh, dia tipe cewek yang nggak jaim. Mangkok bakso dia licin kayak baru dicuci lagi. Dalam hati aku ketawa, “Wah, ini sih tipeku. Cewek doyan makan.”
Hari itu ditutup dengan dia pulang naik bus, aku balik ke kosan. Tapi sejak itu, hubungan kita makin intens. Kita sering curhat. Dia cerita masalah sekolah, aku cerita kuliah. Bahkan dia pernah bantuin aku ngerjain kalkulus. Otak aku langsung nge-blank tiap lihat angka, sementara dia kayak mesin penghitung berjalan.
Sampai akhirnya… hubungan kita masuk ke fase kakak-adekan.
Iya, bener. Jadi jangan mikir aneh-aneh dulu. Aku manggil dia “Dinda”, dia manggil aku “Kanda”. Cringe? Banget. Tapi itulah bagian dari cerita masa muda: kadang memalukan, tapi lucunya justru di situ.
Cerita lengkapnya? Ya… lanjutannya ada di episode berikutnya: Sepanjang Jalan Pacaran.
