Surat untuk Pagi — Sebuah Cerpen Tentang Cinta dan Kesetiaan

Surat untuk Pagi — Sebuah Cerpen Tentang Cinta dan Kesetiaan

Selamat pagi.

Kedatanganmu selalu tepat waktu. Itu yang paling kusukai darimu. Tidak peduli semalam hujan turun deras, tidak peduli langit menyimpan mendung, kau tetap tiba, menyingkap tirai gelap dengan langkah yang tak pernah terlambat.

Aku menyukaimu. Bukan karena kau membawa kopi hitam atau makanan kesukaanku. Juga bukan karena cantik—karena di luar sana banyak yang lebih cantik. Tapi tak ada yang sepertimu. Kau datang dengan caramu sendiri: sederhana, sabar, kadang dengan senyum manis, kadang dengan wajah sendu. Tetap saja aku menyukaimu.

Aku sering khawatir bila wajahmu murung. Karena aku tahu, banyak orang menunggumu. Banyak mata berharap pada cahaya yang kau bawa. Jika senyum itu tertutup air mata, ribuan hati akan merunduk lesu.

Lihatlah di atas bukit kecil itu. Sejak dini hari, sepasang suami istri tua sudah duduk di sana. Kakek dan nenek. Mereka berjalan pelan-pelan, menapaki tanah berbatu, hanya untuk melihatmu lebih dekat.

“Aku ingin menunjukkan betapa cantiknya dirimu dulu,” kata sang kakek pada istrinya, sambil menahan napas yang berat.

Nenek terkejut, menahan tawa. “Kenapa harus naik bukit segala? Lihat saja foto-foto lama kita, masih ada, bukan?”

Tapi kakek hanya tersenyum. “Nanti kau akan mengerti.”

Mereka menunggu lama. Dan ketika kau muncul, wajahmu murung. Kakek kecewa. Dengan hati berat, ia menggenggam tangan neneknya lebih erat. Mereka berjalan pulang menuruni bukit. Langkahnya pelan, penuh perhatian. “Hati-hati, sayang. Aku akan selalu menjagamu,” bisiknya, seakan melindungi bukan hanya tubuh rapuh nenek, tapi juga kenangan mereka berdua.

Keesokan hari, pagi masih gelap ketika kakek mengajak nenek kembali ke bukit kecil itu. Mereka menunggu dengan sabar. Hingga akhirnya kau datang—kali ini dengan senyum yang utuh.

Kakek bertepuk tangan kecil, terbatuk-batuk, lalu berkata penuh semangat, “Ini… ini dia, kekasihku. Yang ingin kutunjukkan padamu sejak kemarin. Lihatlah, betapa cantiknya. Hangat, bukan?”

Nenek hanya mengangguk, matanya berkaca-kaca.

“Itulah kamu,” kata kakek, menggenggam jemari istrinya lebih erat. “Kecantikanmu seperti pagi ini. Kadang murung, tapi tetap setia datang. Tak pernah ingkar janji.”

Kakek lalu memeluk nenek. “Aku menyukaimu seperti aku menyukai mentari yang dibawa pagi. Selalu hadir setiap hari, meski kadang menjengkelkan, tapi tak pernah gagal datang. Sampai aku mati, aku ingin terus melihatmu seperti ini.”

Ia mengecup kening istrinya. Diam. Memeluk lebih erat. Pagi pun perlahan naik, mengisi langit dengan warna.

Sepasang kekasih tua itu turun bukit dengan hati penuh kebahagiaan, seakan hari itu adalah ulang tahun cinta mereka.

Pagi.
Mungkin ini suratku yang pertama sekaligus terakhir. Setelah ini, aku tak ingin menulis lagi. Aku hanya ingin menikmati kehadiranmu—dengan wajah apa pun kau datang.

Terima kasih sudah mau membaca suratku. Tak perlu balasan. Biarlah ini hanya jadi pengingat, bahwa aku selalu menyukaimu.