Kisah Cinta Kita yang Koprol

Tahun 2011. Media sosial belum ribet kayak sekarang. Masih ada Koprol, medsos lokal yang bikin orang-orang sibuk update status kayak, “Lagi makan pecel lele depan kosan, anyone nearby?”
Aku sama sahabat kosku, Wira, kenalan sama cewek di situ. Awalnya aku pikir, “Wah, ini kesempatan bagus.” Tapi ternyata Wira lebih gercep. Dia duluan kopdar. Dan boom! Mereka langsung jadian.
Aku nggak mau kalah. Dua bulan kemudian, aku juga jadian… tapi sama cewek lain. (Biarpun nggak dari Koprol, melainkan dari mig33 yang penting ada kata “jadian.”)
Yang aneh, hubungan kami awet banget. Dari semester 4 sampai wisuda. Aku heran. Biasanya riwayat pacarku itu kayak promo indomie: maksimal setahun. Bahkan pernah ada yang cuma tahan 2 bulan. Lha ini kok bisa 7 tahun?
Aku sempat mikir, “Jangan-jangan ini beneran jodohku.” Apalagi dulu aku pernah doa, “Ya Tuhan, kasih aku pacar yang tinggi badannya minimal sama kayak aku.” Dan Tuhan jawab, “Oke, aku kasih yang tingginya 11-12. Dia 12, kamu 11. Jangan protes.”
Tapi lucunya, meskipun satu kontrakan, aku sama Wira nggak pernah sekali pun jalan bareng sama pasangan masing-masing. Baru setelah 4 atau 5 tahun, kami nekat ngerayain tahun baru di Parangtritis bareng-bareng. Itu pun kayak momen langka.
Singkat cerita, aku akhirnya nikah sama pacarku setelah 7 tahun pacaran. Sementara Wira? Putus. Sedih sih, tapi aku yakin, kalau Tuhan udah ngasih plot twist, pasti ada alasan.
Akhir kata:
Karena pada akhirnya, jodoh bukan sekadar siapa yang kita genggam sekarang. Jodoh adalah siapa yang akan tetap menggenggam tangan kita sampai tua.
Maka, bagi siapa pun yang sedang jatuh cinta: ingatlah, pasanganmu hari ini belum tentu jodohmu. Tetapi jodohmu kelak akan menjadi pasanganmu.
Dan bagi yang masih sendiri, carilah seseorang yang bisa melengkapi, bukan menyempurnakan. Kita semua punya lubang, dan pasangan ada untuk menutupinya.