Kopi untuk Kursi Kosong
Kafe di pojok Jalan Guntur itu selalu membuka tirainya pukul tujuh pagi.
Dan setiap pagi pula, sebelum pelayan sempat menyalakan musik lembut dari radio tua, seorang pria tua sudah duduk di kursi dekat jendela. Ia memakai topi cokelat yang warnanya sudah pudar di tepinya, menaruhnya di kursi seberang, lalu memesan dua cangkir kopi hitam.
“Seperti biasa, ya, Pak Bram?” tanya barista lama yang sudah hafal kebiasaannya.
Pak Bram hanya mengangguk pelan. Ia menatap kursi di hadapannya seolah sedang menunggu seseorang datang sedikit terlambat.
Udara pagi masih membawa aroma roti panggang dan sisa embun dari pepohonan di trotoar. Ia mengangkat cangkir pertamanya, meniup pelan, dan menyesap sedikit.
Lalu, dengan gerakan hati-hati, ia mendorong cangkir kedua ke sisi seberang meja.
“Hari ini cuacanya ramah, ya?” katanya pelan, seperti berbicara pada udara.
Tidak ada yang menjawab. Hanya bunyi sendok bertemu piring kecil, lalu diam.
Hari berganti, pelayan baru datang, seorang gadis muda bernama Nisa.
Ia ramah, berwajah bersih, dan selalu menyelipkan pensil di belakang telinganya. Saat pertama kali melayani Pak Bram, ia sempat tersenyum bingung ketika melihat dua cangkir kopi dipesan untuk satu orang.
“Dua, Pak? Mau disatukan nanti?”
“Tidak,” jawab Pak Bram lembut. “Satu untuk saya, satu lagi untuk yang biasa duduk di sana.”
Nisa menatap kursi kosong itu sekilas, lalu mengangguk sopan tanpa banyak tanya. Tapi sejak saat itu, rasa ingin tahunya tumbuh seperti benih kecil yang menunggu air.
Hari-hari berikutnya, ia mulai memperhatikan.
Setiap pagi, lelaki tua itu datang dengan langkah teratur, selalu lima menit sebelum jam tujuh. Ia membaca koran usang, menulis sesuatu di buku kecilnya, lalu menatap ke luar jendela cukup lama, seperti menunggu sesuatu yang tak pernah datang.
Suatu pagi, ketika kafe sedang sepi, Nisa memberanikan diri bertanya.
“Pak... kalau boleh tahu, siapa yang biasanya duduk di sini?”
Pak Bram meletakkan sendoknya perlahan.
Ia tidak langsung menjawab. Ia menatap ke arah jendela, di mana bayangan dirinya dan kursi kosong saling berdampingan di kaca.
“Istriku,” katanya akhirnya. “Dulu kami selalu minum kopi bersama setiap pagi di rumah. Tapi sejak rumahnya pindah ke tempat yang lebih tenang, aku meneruskan kebiasaan ini di sini.”
“Rumahnya pindah?”
Pak Bram tersenyum, tipis sekali. “Pemakaman, Nak.”
Nisa menunduk. Ada keheningan yang meluas di antara dua cangkir itu, seperti kabut yang menelan suara.
Minggu-minggu berlalu. Musim hujan mulai menampakkan gigilnya.
Setiap kali Pak Bram datang, Nisa sudah menyiapkan dua cangkir kopi tanpa perlu ditanya. Kadang mereka berbincang ringan tentang hal-hal kecil: burung yang bersarang di atap kafe, koran yang salah cetak, atau lagu-lagu lama yang tak lagi diputar di radio.
Suatu hari, Nisa berani berkata,
“Kalau Bapak mau, kursi di depannya saya pindahkan saja. Supaya tidak terlalu terasa... kosong.”
Pak Bram menatapnya lama, seperti menimbang sesuatu yang jauh.
“Tidak usah,” katanya akhirnya.
“Kalau kursi itu hilang, nanti dia tidak tahu harus duduk di mana.”
Sejak itu, Nisa tidak pernah menyinggungnya lagi.
Hujan turun hampir setiap hari.
Kadang deras, kadang sekadar rintik yang malu-malu di atap seng.
Namun Pak Bram tetap datang, meski mantel cokelatnya basah di bahu.
Ia mengusap kaca jendela dengan tisu, menatap trotoar yang licin, lalu tersenyum kecil saat pelayan muda itu meletakkan dua cangkir kopi di meja.
“Hari ini harum melatinya lebih kuat, ya?” katanya sambil menatap secangkir di depannya.
Nisa hanya bisa mengangguk, padahal ia tidak mencium apa pun.
Suatu pagi, hujan turun lebih lebat dari biasanya.
Langit hitam seperti kain tua yang direndam tinta. Nisa datang lebih awal, menyalakan lampu gantung kecil di atas meja pojok, meja kesayangan Pak Bram. Tapi hingga jarum jam menunjuk pukul delapan, lelaki tua itu belum juga datang.
Hari pertama, Nisa pikir mungkin beliau sakit.
Hari kedua, ia mulai khawatir.
Hari ketiga, ia tahu: kursi itu mungkin akan benar-benar kosong.
Saat ia sedang membersihkan meja, seorang kurir datang membawa amplop kecil.
“Untuk Kafe Jalan Guntur, dititipkan oleh Bapak Bram,” katanya.
Nisa membuka amplop itu perlahan.
Di dalamnya ada topi cokelat yang sudah pudar, dan sebuah buku catatan.
Halaman pertama berisi tulisan tangan rapi:
“Terima kasih sudah menjaga kursinya.
Aku mungkin tak sempat datang besok, tapi tolong tetap pesankan dua cangkir kopi.
Mungkin dia akan datang sendiri nanti, menemaniku sebentar.”
Air mata Nisa jatuh sebelum ia sempat membaca halaman berikutnya.
Sejak hari itu, setiap pagi pukul tujuh, Nisa tetap menaruh dua cangkir kopi di meja pojok itu.
Kadang pelanggan lain bertanya, “Kenapa dua?”
Ia hanya tersenyum. “Kebiasaan lama, Pak. Kursinya sudah punya tamu tetap.”
Kadang, saat hujan turun pelan, aroma melati samar terasa di sekitar meja itu.
Dan ada kalanya, ketika embun menempel di jendela, Nisa yakin melihat dua bayangan samar di kaca: seorang pria tua dengan topi cokelat, dan seorang perempuan dengan rambut sebahu, duduk berhadapan, menatap satu sama lain tanpa suara.
Suatu sore menjelang tutup, Nisa duduk di meja itu sendirian.
Ia menatap dua cangkir yang mulai dingin.
Sebelum pulang, ia menulis sebaris kalimat di buku catatan Pak Bram yang masih disimpannya di laci kasir:
“Kopinya sudah saya buat, Pak. Semoga kursinya tidak pernah kosong.”
Ia menutup buku itu, meniup lilin kecil di atas meja, dan keluar dari kafe yang perlahan tenggelam dalam senja.
Kadang cinta tak butuh kehadiran untuk tetap hangat.
Ia hanya butuh kebiasaan kecil yang terus dijaga seperti secangkir kopi yang selalu dibuat untuk kursi yang tak lagi diduduki.