Jatuh Cinta dengan Isolatip
Kalau dipikir-pikir, aku nikah bukan karena cinta pada pandangan pertama. Bukan juga karena mak comblang. Tapi karena... kabel setrika yang rusak.
Iya, benda yang seharusnya menghaluskan dan merapikan pakaian malah ikut meluruskan nasib.
Kalau dipikir agak nggak masuk akal, tapi ya begitulah, kadang Tuhan kerja sama benda elektronik.
Mig33: Tempat Segala Hal Nggak Masuk Akal Tapi Berakhir Jadi Jodoh
Tahun itu aku kuliah di Jogja.
Hidup di kos kecil, sinyal kayak nyawa mantan, ada, tapi putus nyambung. Hiburan cuma satu: mig33.
Aplikasi ajaib yang jadi tempat nongkrong anak-anak 2000-an awal, sebelum manusia sadar bahwa media sosial bisa bikin stres.
Di grup itu, orang-orangnya macam-macam:
ada yang ngobrol normal, ada yang absurd, ada juga yang pakai status “galau tapi beriman”.
Sampai suatu malam, ada cewek ngetik:
“Aku tadi pas nyetrika kesetrum ๐ญ”
Langsung rame.
Ada yang nyuruh ganti setrika, ada yang bilang gosok pake setrika arang, ada juga yang nyeletuk,
“Udah, biarin aja gosong, nanti jadi batik.”
Tapi aku malah serius.
“Mungkin kabelnya ngelupas. Bungkus aja pakai isolatip. Bahaya kalau kesetrum.”
Saran remeh, tapi hidup memang sering dimulai dari hal remeh, termasuk cinta.
Dia bales:
“Makasih ya, Bot.”
Waktu itu nickname-ku robot_pribumi.
Tapi dari situlah semuanya mulai. Aku yakin sih belum ada suka, cuma satu kebaikan yang mungkin akan dia ingat atau ya lupa gitu aja. Disini aku nggak cuma nyelamatin kabel setrika, tapi juga (entah kenapa) nyentuh hatinya.
Dari Grup Jadi Chat Pribadi
Namanya Rahma.
Tiga tahun lebih muda dariku. Masih sekolah, tapi ngomongnya kayak emak-emak yang udah tiga kali ikut arisan RT.
Kami mulai sering chat pribadi.
Topiknya beragam, mulai dari ejek-ejekan, sampe kenapa sinetron Indonesia nggak pernah punya ending yang jelas sampai ngomongin naruto meski aku sampai sekarang nggak ngerti alurnya.
Lama-lama, kalau sehari nggak chat, rasanya kayak pulsa nol tapi gengsi minta isiin.
“Mas, lagi ngapain?”
“Ngerjain tugas.”
“Tugas apa?”
“Tugas menahan rindu.”
“๐”
Oke. Kadang aku gombal. Tapi gombalan itu tulus, meskipun agak bego.
Pacaran Gaya Jadul
Kami jadian setelah lima tahun kenalan dan awalnya kakak-adekan.
Lewat SMS, karena waktu itu WhatsApp masih berupa harapan dan doa para developer.
Setiap malam aku nelpon dia. HP-nya kalau kelamaan bisa ngedrop.
Kadang aku mikir, mungkin dari situ cinta kami terbentuk.
Kami nggak pernah ngedate ke mall.
Makan mie ayam dan bakso di pinggir jalan udah bahagia.
Dia sering cerita tentang kuliah, aku sok dewasa padahal IPK pas-pasan.
Tujuh tahun pacaran.
Kadang berantem, kadang baikan, kadang berantem cuma karena aku lupa bilang “selamat tidur”.
Tapi ya gitu, tetep balik lagi.
Kayak sinetron yang nggak tamat-tamat tapi penontonnya setia.
Wejangan Ibu
Suatu malam, ibuku kirim WA.
Padahal beliau biasanya cuma kirim stiker bunga-bunga dan ucapan selamat pagi.
“Ndri, kamu yakin sama Rahma?”
“Yakin, Bu.”
“Ya udah, lamar. Rezeki bisa dicari bareng, tapi jodoh belum tentu ketemu dua kali.”
Aku baca chat itu lama.
Kalimat pendek, tapi efeknya kayak notif Shopee tanggal 11.11 — bikin deg-degan dan nggak siap.
Ngelamar di Angkringan
Besoknya aku ngajak Rahma ke angkringan dekat RS Panembahan Senopati.
Tempatnya sederhana. Lampu remang, tikar udah kayak veteran perang, dan wedang jahe susunya kental kayak kenangan.
Aku bilang pelan,
“Nduk, aku nggak punya cincin, tapi aku punya niat nemenin kamu sampai tua. Mau nggak kita nikah.”
Terus aku nambahin bumbu dikit:
“Kalau kamu nggak mau, ya aku cari yang lain.”
Dia diem. Lalu ketawa.
“Mas, aku udah tahu kamu serius… sejak kamu nyuruh aku ngisolasi kabel setrika dulu.”
Dan di situ aku tahu, cinta kadang nggak butuh kalimat manis.
Cukup satu kata aja: isolatip.
Nembung Sendirian
Hari berikutnya, aku datang ke rumahnya di Imogiri.
Sendirian. Nggak bawa seserahan, cuma bawa tekad dan keringat dingin.
Aku bilang ke orang tuanya,
“Pak, Bu, saya sudah kenal Rahma lama dan saya mau serius sama Rahma. Jika iya seminggu lagi saya akan ajak orang tuaku kesini”
Ibunya senyum, bapaknya cuma nanya,
“Pie, Ma?”
“Iyo.”
Itu “iyo” paling melegakan seumur hidupku.
Kalau bisa, pengen langsung bungkus akad di tempat.
Seminggu kemudian aku datang bersama orang tuaku dan saudara-saudaraku untuk melangsungkan acara resminya, Lamaran.
Dari Kabel ke Pelaminan
Setelah hari itu kami mulai memikirkan ke jenjang yang lebih serius, mulai undangan, daftar KUA sampai mencari dekorasi pernikahan.
Setahun kemudian kami menikah.
Sederhana, tapi tawa di mana-mana.
Teman-teman mig33 datang juga.
Ada yang bilang, “Cinta kalian nih bukti bahwa saran receh bisa berujung ke pelaminan.”
Dan aku cuma jawab,
“Iya, cinta kami berawal dari kabel setrika" — bukan drama Korea.
Sekarang tiap kali Rahma nyetrika, dan lihat gulungan isolatip di meja, dia senyum.
Katanya, “Kalau dulu kabelnya nggak rusak, mungkin aku nggak pernah ketemu kamu.”
Dan aku cuma bisa jawab,
“Makanya, jangan remehin isolatip.”
Cinta itu nggak perlu ribet.
Kadang cukup dari satu saran tulus di grup mig33 yang sekarang udah punah.
Karena kadang, Tuhan cuma butuh kabel ngelupas buat nyambungin dua hati.
Dan sejak saat itu, kami hidup bahagia —
terisolasi bersama dalam satu rumah tangga.
๐งก
Tamat.