Rambut yang Masih Aku Ingat

Rambut yang Masih Aku Ingat - Cerpen Andriberbudi.com

Aku sering lupa sekarang.

Kadang aku berdiri di dapur dengan teko di tangan, air di dalamnya sudah dingin, tapi aku tidak tahu apakah aku baru saja membuat teh atau baru berniat membuatnya.

Kadang aku memanggil nama orang yang salah. Mereka menatapku dengan lembut, mengoreksi tanpa marah. Aku ikut tertawa, berpura-pura ingat, padahal tidak selalu begitu.

Namun tidak semua hal benar-benar hilang.

Ada hal-hal kecil yang tetap bertahan, seperti arah sinar matahari yang selalu jatuh di meja makan setiap pukul delapan, atau aroma sabun dari rambut anakku setiap kali ia lewat di dekatku.

Rambut itu.

Entah kenapa, dari semua hal yang memudar dalam kepalaku, rambutnya selalu bertahan paling lama.

Mungkin karena di sanalah, di antara helainya, kenangan-kenangan lamaku bersembunyi.

Dulu aku tidak tahu apa-apa tentang rambut anak perempuan.

Aku belajar dari awal: cara mencuci, mengeringkan, sampai memilih karet rambut yang tidak menyakiti kulit kepalanya.

Setiap pagi kami duduk di depan cermin. Aku di belakangnya, memegang sisir dengan hati-hati. Ia menatap pantulan kami di kaca seorang anak kecil dengan pipi bulat, dan seorang ayah yang berusaha keras agar tak membuatnya menangis.

“Pelan, Yah. Sakit.”

Aku langsung berhenti, minta maaf, lalu mencoba lagi.

Saat ikatannya miring, aku ingin memperbaikinya, tapi ia berkata, “Gak apa-apa. Nanti juga rapi sendiri.”

Dan aku percaya.

Begitulah kami setiap pagi, sisir, karet rambut, telur goreng yang terlalu asin, dan langkah kecilnya menuju sekolah.

Aku tak tahu waktu itu bahwa pemandangan sederhana itu, punggung kecil berjalan menjauh di jalan depan rumah akan menjadi kenangan paling utuh dalam hidupku.

Bertahun-tahun berlalu.

Ia kini perempuan dewasa, bekerja dari rumah, suaranya lebih pelan.

Kadang aku mendengar suara sendok di cangkir, langkahnya di tangga, atau ketikan di laptop.

Sementara aku perlahan kehilangan sebagian dari diriku sendiri.

Ada hari-hari ketika aku masih bisa mengenali semua hal seperti aroma nasi dari dapur, suara burung di pagar.

Tapi ada juga pagi-pagi lain ketika aku menatap wajahnya lama sekali, dan otakku tak menemukan namanya.

Anehnya, tubuhku tak pernah lupa.

Setiap kali ia lewat, rambutnya tergerai di bahu, jari-jariku bergetar seperti ingin mengikatnya lagi.

Suatu pagi, aku duduk di meja makan. Tehku sudah dingin.

Sinar matahari menembus jendela, jatuh di rambutnya.

Tanpa berpikir, aku berkata,

“Boleh Ayah yang ngikat rambutmu hari ini?”

Ia menoleh.

Wajahnya sempat ragu, tapi lalu tersenyum.

Ia duduk di kursi kecil di depanku, seperti dulu.

Aku mengambil sisir. Tanganku gemetar. Aku lupa harus dari mana mulai.

Tapi begitu jari-jariku menyentuh rambutnya, semuanya kembali seperti dulu tenang, hangat, dan penuh kesabaran.

Rambutnya lebih halus sekarang. Aku memutar karet rambut perlahan. Tidak rapi. Tidak sempurna. Tapi selesai.

Ia menatap cermin, tersenyum kecil.

“Masih bisa, Yah.”

Aku tertawa. “Tangan ini udah hafal sejak dulu.”

Sore itu kami duduk di teras.

Langit berwarna tembaga.

Ia membuatkan teh baru untukku, lalu duduk di kursi di sebelah.

Kami tidak banyak bicara. Tapi diam itu terasa penuh, seperti percakapan yang tidak butuh kata-kata.

“Capek, Yah?”

“Sedikit.”

“Tidur aja nanti, ya.”

Aku mengangguk.

Lalu aku berkata, “Kamu mirip sekali dengan anakku dulu.”

Ia terdiam sebentar.

Matanya berkaca, tapi senyumnya tetap sama.

“Namanya siapa, Yah?”

Aku berpikir keras. Tapi kepalaku kosong.

Akhirnya aku berkata pelan, “Aku lupa. Tapi rambutnya juga panjang seperti kamu.”

Ia tidak menegur. Tidak juga menangis.

Hanya mengangguk. “Iya, Yah. Rambutnya masih panjang kok.”

Malamnya aku tidak langsung tidur.

Aku membuka laci meja kecil di samping ranjang.

Ada sebuah karet rambut tua di sana, warnanya pudar, elastisnya hampir hilang.

Aku mengambil selembar kertas, menulis pelan dengan pensil tumpul:

Kalau suatu hari aku lupa semuanya,

semoga aku masih ingat cara mengikat rambutmu.

Tulisan tanganku bergetar, tapi aku tidak memperbaikinya.

Aku lipat kertas itu, meletakkannya di bawah karet rambut.

Dari kamar sebelah terdengar langkah pelan anakku, suara air di wastafel, bunyi pintu yang ditutup perlahan.

Aku memejamkan mata.

Dalam gelap, aku mencium aroma rambutnya, sabun, udara malam, dan sesuatu yang membuatku merasa belum sepenuhnya hilang.

Mungkin besok aku akan lupa banyak hal lagi, tanggal, nama, cara menyalakan televisi.

Tapi aku tahu tubuhku masih akan ingat, bagaimana rasanya menyisir rambut seorang anak kecil, bagaimana jari-jariku memutar karet rambut, dan bagaimana ia tersenyum di depan cermin sambil berkata,

“Ikatannya jelek, tapi aku suka. Soalnya Bapak yang bikin.”

Cinta, rupanya, tidak butuh ingatan.

Ia bersembunyi di hal-hal kecil, aroma rambut, bunyi langkah, cahaya pagi.

Dan selama itu masih ada,

aku tahu, aku belum benar-benar hilang.


© Andri, 2025